HMTL Gelar Webitalk, Bahas Dampak Pertambangan dan Pembanguan Terhadap Lingkungan

0
139

SERANG, – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Unbaja melakukan diskusi terkiat dampak pertambangan dan pembanguan di Banten terhadap lingkungan bersih dan sehat.

Dalam diskusi tersebut menghadirkan lima narasumber, diantaranya Kementerian ESDM, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Trend Asia, Green Peace dan Keynote Speaker Walikota Serang, Syafrudin.

Materi pertama disampaikan oleh Kepala Subdirektorat Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Kementerian ESDM, Lana Saria. Ia menyampaikan bahwa manusia saat ini masih belum bisa terlepas dari segala hasil pertambangan. Sebab pertambangan masih menjadi kegiatan prioritas di masyarakat.

“Namun perlu diingatkan, kegiatan pertambangan itu harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang ada. Karena itu perlu adanya perlindungan lingkungan, untuk menjaga kelanjutan pelestarian lingkungan,” ujar Lana Saria ketika memaparkan materi pada diskusi virtual, Jumat (27/11/2020).

Dalam peraturan perundang-undangan, lanjut Lana, kegiatan pemulihan yang wajib dilakukan oleh pelaku pertambangan, yakni kegiatan reklamasi. Hal ini bertujuan memulihkan area yang terdampak pertambangan sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Aktivis Greenpeace Indonesia, Didit Haryo Wicsksono, dalam materinya mengkritisi terkait pembangunan PLTU Jawa 9-10. Menurutnya, PLTU di Jawa sudah terlalu banyak, bukan hanya akan kelebihan sumber listrik namun dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat.

“Bukan hanya masyarakat setempat yang terkena dampak polusi udara ini. Pembangkit listrik Suralaya berjarak kurang dari 100 kilometer dari Jabodetabek, dapat membawa emisi melalui angin,” terangnya.

Sebagai penghasil listrik, PLTU sangat merugikan kesehatan masyarakat. Dari polusi yang dihasilkan, dapat menimbulkan penyakit seperti stroke, kanker paru, serangan asma dan penyakit lainnya.

“Meski episentrum polusi berada di Suralaya, namun dampaknya bisa dirasakan beratus kilometer jauhnya. Dampak ini bisa menyerang siapa saja dan kapan saja, dan membutuhkan waktu yang panjang untuk merasakan akibatnya,” ungkapnya.

Aktivis Trend Asia, Andri Prasetio, juga turut menyinggung energi kotor yang dihasilkan oleh PLTU. Menurutnya, investasi untuk energi kotor sudah tidak relevan dilakukan pada saat ini. Sebab, sudah ada energi terbarukan yang lebih murah dan bersih. Seperti energi dari angin dan panas matahari. Energi tersebut ia klaim sangat ramah terhadap lingkungan dan bebas energi kotor.

“PLTU memiliki dampak serius mulai dari segi lingkungan, kesehatan, sosial-ekonomi masyarakat, dari hulu hingga ke hilir. Sementara pemanfaatan potensi energi terbarukan masih melimpah,” tegasnya.

Materi terakhir disampaikan oleh akademisi Unbaja, Ricky Febriyanto. Dirinya menyoroti persoalan sampah di Kota Serang yang perlu diperhatikan. Dirinya memperkirakan dalam waktu dekat ini TPAS Cilowong sudah tidak mampu menampung sampah.

“Dengan alat yang dimiliki oleh Pemkot Serang, penambahan sampah di TPAS Cilowong ternyata terjadi kejenuhan. Artinya, alat tersebut memiliki dampak yang cukup signifikan untuk menyelesaikan persoalan sampah,” jelasnya.

Terakhir Walikota Serang, Syafrudin, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh HMTL Unbaja tersebut. Ia mengatakan, kegiatan tersebut memberi masukan kepada pemerintah, dalam proses penyelarasan pembangunan yang ramah lingkungan.

“Semoga kegiatan ini juga dapat didengar oleh seluruh masyarakat, khususnya di Kota Serang. Agar dapat bersama-sama pemerintah dalam melakukan pembangunan yang berorientasi lingkungan,” tandasnya.

(Ajat/Red)

Editor : Ari Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here