Dampak Banjir Bandang Awal Tahun 2020, Para Penghuni Di Huntara Rasakan Tidak Nyaman

0
68

LEBAK, BANTEN – juhaedi warga yang terkena dampak banjir bandang awal tahun (2020) dan para penghuni lainnya merasakan tidak ada kenyamanan tinggal dirumah hunian sementara (Huntara) yang ada di Desa Pajagan Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak, di kerenakan masarakat merasa tidak bebas di temat tinggal yang sekarng ini. Hal itu dikatakan Juhaedi Selasa, (27/10/2020) belum lama ini.

“Saya dan para penghuni lainnya merasakan tidak nyaman seperti hal nya tinggal di rumah yang dulu ada sebelum rumah kami hilang diterjang banjir bandang di awal tahun (2020) itu yang nyaman dan layak di huni,” ujar Juhaedi

Juhaedi mengatakan lokasi yang dulu menjadi tempat tinggal masarakat pun kini telah berubah fungsi, tak ada lagi bangunan yang berdiri di kampung tersebut, kecuali Masjid yang hanya di gunakan untuk kegiatan solat bagi umat muslim di huntara.

Sementara itu, Yati salah seorang ibuvrumah tangga menambahkan, bahwa apa lagi bulan ini bulan datangnya musim hujan, masarakat sangat merasa tempatnya tidak nyaman dengan lokasi saat ini

“Jika mau kesungai pun jarak yang di tempuh amat jauh, gelap dan licin. disaat malam pun tidur juga kedinginan, beda rasanya dengan rumah yang dulu mereka miliki sebelum kena banjir bandang,” ucap Yati.

Belum usai kesedihan di pengunsian sementara masarakat di kejutkan kembali dengan hasil hitungan luas tanah yang di gelontarkan tea apresial dan ratusan tanah bahkan ada yang sampai ribuan meter tanah masarakat ada yang hilang jumblah luas tanah dari team apresial tidak sesuai dengan jumlah tanah yang ada di SPPT yang masarakat miliki.

“Kalau cuma hilang semeter atau dua meter mah itu wajar tapi kalau nyampe ratusan bahkan ada yang ribuan meter kayanya udah ga masuk akal” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Juhaedi dan penghuni lainnya meminta kepada pihak Desa pajagan agar segera memberitahukan hasil jumlah tanah masarakat di kampung seupang dan masarakat meminta biar ada keterbukan antara pihak Desa dengan masarakat kampung seupang.

“Kerena masarakat merasa di rugikan oleh team apresial dalam mendata tanah warga, jika memang benar hasil data team apresial yang akan di bayar kemasyarakat.” pungkasnya.

(Aguh/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here